Tuesday, February 22, 2011

Puisi-puisi gila-koe

Aroma-mu

Aku tenggelam dalam aroma tubuhmu
yang menusuk sampai ke kedalaman tulangku
Tak mampu kukibaskan denyutnya hingga membuatku teriak
Tak sanggup kuhentakkan hingga membuatku berontak.

Pesonamu begitu dalam walau hanya batas hayal
Semerbakmu begitu kuat walau hanya sekelebat
Geloramu begitu dahsyat walau kadang menggeliat

Kuragu akan diriku yang tak mampu tahan gejolak
Kurindu hasratmu yang terus membludak
Kuraba anganku yang tumbuh tak terinjak
Kudaki asa yang meninggi walau pahit mengikat
Kutimbun riak waktu yang kerap usik melekat
Kukungkung utuh diri dalam lirih menyekat
Kulari dan kulari namun kini kutercekat

Kusadari kuberada dalam penjara nan mengilat
Kutakut terjatuh dan terhempas dalam lubang nan pekat
Kuterhanyut, kuterbuai, kuterikat, keterlena, kuterpenjara
Walau kutahu ini sementara.....................


Jakarta, Nov 2009 - Feb 2011




Galau

Seruan hati yang tak terbendung ...
mau kemana langkahnya?
Seribu tanya menggelayut tak tentu arah
Ada asa, namun tak mampu berkata-kata
Cemas...Galau....Resah....

...biarlah waktu yang menjawab semua dan cinta kan temukan jalannya sendiri.....


Jakarta, New Year's Eve, 2011



Rindu

Asa dan harap hanya pada satu penantian yang pasti dan berujung.
Tiada badai penghalang akan semua harap kecuali ketakutan akan asa itu sendiri
Semakin jendela itu terbuka semakin terhempaslah ia.
Ijinkan ia berhenti dan berhembus dengan lembut namun pasti
Sehingga tiada ia menjelma menjadi badai dan mengoyak luka pada satu masa
Jadikan ia mercusuar
Jadikan ia marina-mu sehingga biduk-biduk indah menghampirinya untuk bersandar
Jadikan ia setiamu yang mampu membuka cakrawala masa depan bersama
Jadikan ia warnamu, resahmu, lagumu, jiwamu, dalam setiap hembusan nafasmu...

Rasa itu semakin dekat menghampiri namun tak jua dimengerti.....


Jakarta, December 2010


Ruang Kosong

Rumah ini terlalu kosong, katanya....
Isilah! kataku.... (seperti ruang hampa di sudut hatiku yang hanya kau saja yang bisa tinggali)

Tempat ini sepi, katanya....
Bersoraklah! kataku.... (seperti keramaian hatiku ketika bersamamu)

Laut ini dalam, katanya...
Selamilah! kataku... (seperti rinduku untuk kau selami hatiku setiap waktu)

Aku tersesat, kataku....
Bacalah peta! katamu.... (seperti engkau membaca peta jiwaku)

Aku terjatuh, katanya...
Bertahanlah! kataku.... (karena ku adalah penopang hidupmu, dalam susah dan senang... bersama... selalu.....)


Jakarta, October - November 2010









No comments:

Post a Comment

Post a Comment